Senin, 16 Juli 2018

Kayu Putih : Proses Pemanenan Daun Kayu Putih

     Kawasan hutan yang dikelola oleh Balai KPH Yogyakarta didominasi hutan tanaman jenis jati dan kayu putih. Luas tanaman kayu putih di wilayah KPH Yogyakarta mencapai ± 4.118,1 Ha yang berada di hutan produksi seluas 3.831 Ha dan hutan lindung seluas 286 Ha. Tegakan kayu putih tersebar di empat BDH yaitu BDH Playen, BDH Paliyan, BDH Karangmojo, BDH Panggang. Tegakan kayu putih telah sekian lama dibudidayakan sebagai bentuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Di setiap tahunnya dilakukan panen daun kayu putih sebagai bahan utama menghasilkan minyak atsiri kayu putih. Proses pemanenan daun kayu putih terdiri dari dua tahap yaitu pangkas perdana dan pangkas panen. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut terkait proses pemanenan daun kayu putih:
1. Pangkas Perdana
     Pangkas perdana dilakukan pada tanaman kayu putih dengan usia minimal 5 tahun atau saat diameter batang pokok telah mencapai minimal 7 cm. Waktu yang tepat untuk pangkas perdana ialah saat musim kemarau. Pangkas perdana ditujukan untuk memperpendek tinggi tanaman sehingga mempermudah dalam pemungutan lanjutan. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong batang utama setinggi 110cm atau setinggi dada orang dewasa. Pemotongan menggunakan gergaji/ kapak yang seteril  untuk mencegah luka pada batang tidak terkena bakteri atau kotoran yang dapat menghambat pertumbuhan trubusan daun. Arah potongan menghadap arah matahari dengan kemiringan potongan 45 derajat dan menghadap cahaya matahari bertujuan agar luka cepat kering dan cukup mendapatkan asupan cahaya matahari agar mempercepat pertumbuhan daun.   Daun dari panen perdana digunakan dalam bahan baku penyulingan minyak. Sedangkan kayu dari pemanenan dijual karena masih bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
2. Pangkas Panen
      Pangkas panen merupakan pangkas rutin yang dilakukan pada tekagan kayu putih yang telah dipangkas perdana untuk memperoleh daun kayu putih. Pangkas dilakukan bertahap mulai bulan Mei hingga Desember. Sebelum pelaksanaan pangkas terlebih dahulu dilakukan taksasi untuk mengetahui potensi daun di tiap-tiap petak. Potensi daun dilihat dari kerimbunan daun, warna daun yang sudah hijau tua menandakan kandungan minyak nya tinggi dan diameter cabang tunas baru minimal sudah berukuran 2 cm. Setelah ditentukan blok mana yang akan dipangkas kemudian petak-petak tersebut ditandai dengan patok bambu yang di cat merah dan ditempatkan di setiap sudut petak.
     Terdapat dua cara dalam memangkas daun kayu putih. Pertama adalah rimbas habis dimana semua cabang dipanen. Kedua yaitu rimbas sebagian yang menyisakan 1 hingga 2 cabang untuk memastikan tanaman kayu putih tidak mati. Rimbas sebagian dikenakan pada tegakan kayu putih yang sudah berumur tua.
     Tenaga kerja rimbas daun kayu putih adalah anggota kelompok tani hutan (KTH) yang mengelola petak kayu putih. Petani telah diberikan akses dengan melakukan tumpangsari di bawah tanaman pokok. Sebagai bentuk kerjasama maka disaat panen daun kayu putih anggota KTH yang menjadi tenaga rimbasnya. Petani sebagai tenaga rimbas tidak semata-mata tenaga gratis tetapi diberikan upah kerja. Sistem pengupahan yang diterapkan berbeda-beda di setiap RPH tergantung kebijakan di tiap lokasi. Secara garis besar sistem pengupahan yang diterapkan adalah upah borongan. Pengupahan dihitung berdasarkan muatan tiap truk. Truk sekali angkut memuat kurang lebih 140-150 ikat daun dan diberikan upah sebesar 200rb per angkut truk. Untuk menjaga kelancaran proses pemanenan, mandor produksi yang bertugas untuk mengawasi berjalannya proses panen.
     Daun yang telah dipangkas dikumpulkan dan diletakkan di jalan produksi untuk dimuat oleh truk daun. Titik pengumpulan daun dipilih sesuai kesepakatan antara tenaga pungut dengan mantri/ mandor. Kesepakatan titik pengumpulan bertujuan agar tenaga pungut tidak meletakkan daun sembarangan dan jika tenaga pungut tidak meletakkan daun sesuai titik kumpul atau daun tidak bisa terambil oleh truk daun maka upah pungut tidak dibayarkan. Selanjutnya truk pengangkut daun akan mengantarkan daun ke pabrik penyulingan kayu putih gelararan dan pabrik sendangmole untuk diolah menjadi minyak kayu putih. 
     Kegiatan pemanenan daun kayu putih tidak luput dari adanya kendala. Beberapa kendala yang sering dihadapi antara lain:
1. Akses menuju jalan produksi
Jalan yang rusak adalah kendala berat bagi truk untuk mengakses lokasi kumpul. Jalan produksi di dalam hutan sulit ditempuh apalagi menggunakan kendaraan besar. Jenis tanah di daerah Gunung kidul adalah grumosol yang berciri tanah keras dan jika terkena air berteksur lempung. Selain itu di kawasan hutan terdapat bebatuan yang tajam dan dapat membuat ban truk bocor dan adapula lempengan batuan jika dalam keadaan lembab cenderung berlumut dan mampu membuat truk tergelincir. 
2. Salah memperkirakan cuaca
Cuaca adalah faktor penting dalam pemanenan daun. Kegiatan panen dilakukan pada musim kemarau dan menghindari musim hujan. Saat hujan akan menggangu efektifitas pemanenan daun. Hujan juga memperburuk jalan produksi yang mengakibatkan truk dapat terjebak di lumpur maupun tergelincir. 
3. Sosial budaya masyarakat setempat
Masyarakat di Yogyakarta masih sangat kental dengan aktivitas sosial budaya yang kuat. Kegiatan pemanenan akan berhenti sesaat ketika masyarakat sedang ada acara sosial budaya seperti: hajatan, rosulan, layat, dan berbagai acara lainnya. 

Dokumentasi


Gambar 1. Rimbas Daun MKP


Gambar 2. Panen Daun MKP


Gambar 3. Angkut Daun MKP


Gambar 4. Muatan Truk Daun Kayu Putih

Continue reading Kayu Putih : Proses Pemanenan Daun Kayu Putih

Kamis, 12 Juli 2018

Pengelolaan Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

      Hutan itu identik dengan perpaduan antara sumberdaya alam biotik dan sumberdaya alam abiotik. Keberadaan hutan memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Manfaat langsung yang dapat kita peroleh dari hutan berupa hasil hutan yang bisa dipungut seperti kayu, madu, sumber air, sumber tambang dan masih banyak lagi. Sedangkan manfaat tidak langsung dari hutan ialah menghasilkan oksigen, mencegah erosi, mengatur tata air, menjaga iklim, dan lainnya. Oleh karena itu, kita harus menjaga kelestarian hutan agar tetap lestari dan memberikan manfaatnya bagi kehidupan semua makluk hidup.  Berbeda dengan keharusannya untuk menjaga hutan,  dalam beberapa dekasi terakhir pengelolaan hutan di Indonesia menekankan pada hasil hutan kayunya sehingga terjadilah degradasi dan deforestasi yang sangat pesat. Luas hutan di Indonesia saat ini  menduduki peringkat ke-9 dengan luas hutan 84.950 km², sekitar 46,46% wilayah Indonesia. Seiring Berjalannya waktu pemerintah mengupayakan solusi menghijaukan hutan di Indonesia dalam menekan laju kerusakan hutan.
      Untuk memanfaatkan hutan sesuai dengan fungsinya hutan digolongkan menjadi tiga yaitu hutan konservasi, hutan produksi dan hutan lindung. Provinsi Yogyakarta memiliki kawasan hutan seluas 19.041 Ha yang terbagi oleh hutan konservasi, produksi dan hutan lindung. Hutan konservasi dikelola oleh BKSDA dan Balai Tahura kemudian hutan lindung dan hutan produksi diampu oleh Balai KPH Yogyakarta. Sesuai dengan upaya pemerintah dalam menekan kerusakan hutan, Balai KPH Yogyakarta melakukan kelola hutan dalam bentuk pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam. Pengelolaan hutan wisata alam dapat mempertahankan kondisi fisik hutan sekaligus memperoleh manfaat sosial dan ekonomi. Wisata alam mangunan adalah bentuk pemanfaatan hutan jasa lingkungan yang berlokasi di kawasan hutan RPH Mangunan, BDH Kulonprogo-Bantul KPH Yogyakarta. Sedangkan letak menurut administrasi wilayah berada di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Luas wisata alam tersebut mencakup luasan 24,97 Ha dari 570,70 Ha total luas hutan lindung di RPH Mangunan. 
      Wisata alam mangunan mulai dirintis pada akhir tahun 2014. Kawasan ini merupakan hutan lindung yang didominasi oleh tegakan monokultur pinus (pinus merkusii) yang sudah berhenti disadap. Rimbunnya tegakan pinus dan didukukung iklim mikro yang dingin layak diusung untuk menjadi wisata alam yang prospektif. Sejalan dengan pengelolaan wisata alam harus disertai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Adapun beberapa peraturan yang diacu antara lain:
1. Permenhut No. 22 Tahun 2012 tentang pedoman kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan
2. Permenhut No. 31 Tahun 2016 tentang pedoman kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam pada hutan produksi
3. Perda DIY No. 7 Tahun 2015 tentang pengelolaan hutan produksi dan hutan lindung
4. Pergub DIY No. 5 Tahun 2018 tenang kerjasama pemanfaatan hutan produksi dan hutan lindung serta kerjasama dan perijinan pemanfaatan taman huan raya (Tahura)
      Kualitas landscape yang tersaji di wisata alam mangunan sangatlah indah. Ketika berkunjung akan sangat memanjakan mata. Tegakan pinus mempunyai nilai estektik tersendiri yang mana pohonnya menjuntai tinggi, alur-alur batang nya yang terlihat jelas, bunga yang berbentuk unik yang dapat digunakan sebagai kerajinan, seresah daun yang berbentuk seperti jarum menumpuk di bagian dasar pohon. Selain menikmati panorama pinus pengunjung dapat menikmati beberapa obyek yang ada di dalam kawasan wisata. Wisata alam mangunan mengusung nilai budaya sebagai identitasnya sehingga wisata alam mangunan juga disebut sebagai wanawisata budaya mataram. Diharapkan dalam wisata tersebut selain melihat pemandangan alam, pengunjung juga dapat mengenal lebih dalam budaya mataram serta menjadi sarana pendidikan mengenal alam. 
Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di wisata alam mangunan antara lain:
1. Menikmati panorama alam
2. Spot Foto
3. Tempat acara/ pertemuan
4. Camping ground
5. Preweding
6. Jelajah alam

  

        Selain sajian panorama yang indah, tingginya antusias pengunjung ke wisata alam mangunan juga di dukung oleh sistem pengelolaan wisata yang tersinergi dengan baik. Pengunjung diberikan kenyamanan berwisata dengan kelengkapan saranan dan prasarana yang memadai. Wisata alam mangunan dikelola dengan sistem kerjasama antara Dinas Kehutanan Yogyakarta dengan masyarakat setempat yang ternaung pada Koperasi Notowono. Sesuai dengan perjanjian kerjasama termuat adanya bagi hasil antara dimana pemerintah daerah mendapatkan bagi hasil sebesar 25% sedangkan masyarakat sebesar 75%.  Saat ini wisata alam mangunan mempunyai 9 lokasi wisata yang dikelola oleh 7 kelompok tani hutan (KTH). Keberadaan wisata alam telah mendorong perekonomian masyarakat setempat. Anggota kelompok tani hutan sebelumnya mengandalkan hasil sadap getah dan hasil tumpangsari dari lahan andil kawasan hutan. Sekarang masyarakat sudah terbantu dengan memperoleh pendapatan tambahan dari sektor wisata alam. Masyarakat diberikan kesempatan untuk menjadi anggota pengelola, membuka lapangan pekerjaan seperti berjualan dan menyewakan homestay. Anggota pengelola terbuka bagi semua golongan usia. Pemuda-pemudi setempat juga berpartisipasi aktif dalam pengelolaan wisata alam. Mereka memberikan ide-ide segar dalam pengembangan obyek-obyek wisata. 


       Bagi pemerintah daerah Yogyakarta, PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang disumbangkan dari wisata alam mangunan jauh lebih besar daripada hasil getah pinus. Pendapatan yang diperoleh saat pinus masih disadap berkisar antara 300-400 juta pertahun. Saat dimanfaatkan menjadi wisata alam mampu menyetorkan PAD hingga sebesar 2 miliar di tahun 2017. Tingginya antusias pengunjung ke wisata alam mangunan sedikit banyak akan berakibat pada penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu pengelola melakukan beberapa upaya untuk menanggulangi hal tersebut dengan melakukan pemeliharaan tegakan, adanya rehabilitasi, dan menyertakan himbauan-himbauan agar pengunjung tertib pada peraturan yang berlaku di wisata alam mangunan.   
       Berbekal hutan monokultur dengan tegakan pinus yang telah dikelola dengan baik menjadi bukti bahwa hasil hutan bukan kayu mampu memberikan nilai jual yang tidak kalah tinggi dibanding dengan hasil hutan kayu. Keanekaragaman hayati di dalam hutan masih terkandung potensi-potensi yang siap untuk diolah dan dikembangkan. Pengelolaan hutan haruslah tetap mempertahankan konsep "lestari" karena hutan merupakan warisan dari generasi ke generasi. 













 
Continue reading Pengelolaan Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

Senin, 02 Juli 2018

Wisata Alam Mangunan Yogyakarta

Wana Wisata Budaya Mataram mulai dirintis oleh Balai KPH Yogyakarta pada akhir tahun 2014 sebagai bentuk pemanfaatan jasa lingkungan. Dalam pengembangan wisata alam, KPH mengambil konsep perpaduan alam dengan budaya setempat. Provinsi Yogyakarta adalah satu dari dua provinsi di Indonesia yang diberikan keistimewaan. Kepala pemerintahan Provinsi Yogyakarta dikepalai oleh gubernur yang sekaligus adalah raja Kerajaan Mataram.  Oleh karenanya, Yogyakarta sangat kental akan kearifan lokal dan budaya seni nya. Kawasan Wisata alam mangunan menapaki lahan seluas kurang lebih 25 Ha. Lokasi tersebut berada di kawasan Hutan Lindung, RPH Mangunan BDH Bantul-Kulonprogo, KPH Yogyakarta. Kemudian secara administratif terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dalam waktu 40 menit-1 jam dari kota Yogyakarta dengan jarak tempuh sekitar 23Km. Akses jalan menuju lokasi terbilang sangat baik dengan jalan yang sudah aspal.
Sebagai salah satu instansi pemerintah, KPH Yogyakarta dalam mengelola wisata alam mangunan merujuk pada beberapa peraturan yang berlaku mulai hulu hingga hilir. Peraturan-peraturan tentang wisata alam yang diacu adalah:
1. Permenhut No. 22 Tahun 2012 tentang pedoman kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam di hutan lindung
2. Permenhut No. 31 Tahun 2016 tentang pedoman kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam pada hutan produksi
3. Perda DIY No.7 Tahun 2015 tentang pengelolaan hutan produksi dan hutan lindung
4. Pergub DIY No 5 Tahun 2018 tentang kerjasama pemanfaatan hutan produksi dan hutan lindung serta kerjasama dan perijinan pemanfaatan taman hutan raya (Tahura)
      Kawasan wisata alam yang pertama kali dikembangkan berada di blok sudimoro III. Blok sudimoro III didominasi oleh tegakan pinus yang sudah berhenti sadap getah pinus. Beberkal dari potensi landscape yang indah, oleh karena itu KPH Yogyakarta mengambil langkah untuk mengembangkannya sebagai wisata alam. Dari satu lokasi di Blok Sudimoro III yang berhasil  dan ramai akan pengunjung kemudian dilakukan pengembangan lanjutan ke lokasi-lokasi sekitarnya. Sesuai dengan konsep yang diusung, obyek-obyek yang disajikan di wisata mangunan mengandung nilai seni dan budaya Yogyakarta. Beberapa obyek terinspirasi dari filosofi maupun cerita rakyat sekitar. Hingga tahun 2018 wisata mangunan terbagi menjadi 9 lokasi wisata alam yaitu:  Bukit Panguk, Bukit Mojo, Seribu Batu, Pinussari, Pinus Asri, Lintang Sewu , Bukit Ndah Romo, Puncak Becici, Gunung Pengger. Jumlah KTH yang mengelola wisata mangunan ada 7 KTH yaitu KTH Gunung Mojo, KTH Bukit Panguk, KTH Gunung Pengger, KTH Becici Asri,  KTH Pinussari, KTH Pinus Asri, dan KTH Songgo Langit. Kelompok tani hutan (KTH) yang mengelola wisata alam mangunan ternaung dalam Koperasi Notowono. Sesuai peraturan yang berlaku kegiatan wisata alam di hutan lindung dapat melakukan kerjasama dengan masyarakat yang ternaung dalam badan hukum setidaknya berbentuk koperasi (Permenhut No. 22 Tahun 2012). Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY melakukan perjanjian kerjasama dalam mengelola wisata alam mangunan yang tertuang dalam dokumen perjanjian kerjasama No. 525/00909. Di dalam dokumen tersebut dikatakan adanya nilai bagi hasil sebesar 75% untuk koperasi dan 25% untuk pemerintah.
 Dalam menjaga eksistensi wisata pengelola selalu menyajikan obyek-obyek yang kreatif dan kekinian mengikuti perkembangan jaman dengan tetap memasukan unsur budaya. Selain obyek yang menarik, kenyamanan pengunjung merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Pengelola wisata mangunan selalu mengedepankan aspek sarana dan prasarana yang memandai serta kebersihan yang selalu dijaga. Keberadaan wisata alam telah mendorong peningkatan perekonomian masyarakat setempat. Anggota kelompok tani hutan sebelumnya berkerja sebagai penyadap getah dan mengandalkan hasil tumpangsari. Sekarang mereka memperoleh pendapatan baru dari sektor wisata alam seperti berjualan, membuka homestay, dan lainnya.. Pemuda-pemudi setempat juga berpartisipasi aktif dalam pengelolaan wisata alam sehinga membantu mengurangi pengangguran di daerah tersebut. Peran pemuda dengan memberikan ide-ide segar dalam pengembangan obyek-obyek wisata serta menjadi anggota pengelolaa yang bekerja aktif. Keberhasilan pengelolaan wisata alam terbentuk dari kesinergian yang baik antara beberapa stakeholder yang berkecimpung di didalamnya. Kedepan pengelolaan hutan berbasis wisata alam akan giat untuk dikembangkan di wilayah hutan KPH karena masih banyak potensi-potensi pemandangan alam yang masih tersembunyi dan patut untuk ditelisik.
Dokumentasi
Gambar 1. Bukit Panguk
Gambar 2. Bukit Mojo


Gambar 3. Seribubatu
Gambar 4. Pinussari
Gambar 5. Lintangsewu
Gambar 6. Bukit Pengger
Gambar 7. Becici






Continue reading Wisata Alam Mangunan Yogyakarta

Jumat, 29 Juni 2018

Wisata Alam Seribu Batu Yogyakarta

     Ketertarikan masyarakat terhadap wisata telah mendorong dalam perkembangan jumlah maupun ragam jenis wisata. Wisata alam atau ekowisata merupakan jenis wisata yang cukup diminati masyarakat saat ini. Provinsi Yogyakarta dikenal memiliki  beragan daya tarik wisata baik wisata budaya maupun wisata alamnya. Wisata alam mangunan merupakan destinasi wisata yang paling diminati saat berkunjung ke Yogyakarta. Di dalam wisata mangunan terbagi sembilan destinasi yang tiap destinasi memiliki karakteristik yang unik dan menarik. Salah satu lokasi yang cukup ramai di wisata alam mangunan adalah wisata alam seribubatu (songgo langit). Saat memasuki pendopo kawasan wisata mangunan, lokasi pertama yang dapat dihampiri adalah wisata seribu batu. Secara administratif wisata seribu batu tepatnya berada di Dusun Sukorame, Desa Mangunan, Kec.Dlingo, Kab. Bantul. Berdasarkan kepemilikan kawasan berada dalam hutan negara Blok Sudimoro III, RPH Mangunan, KPH Yogyakarta dengan luasan kurang lebih 2.5 Ha.
    Wisata alam seribu batu pertama kali dibangun pada Maret 2016. Pengelolaan wisata dilakukan oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok tani hutan seribu batu. KTH Seribu batu merupakan salah satu KTH yang ternaung dalam Koperasi Notowono. Koperasi Notowono merupakan badan hukum masyarakat yang menjalin kerjasama pemanfaatan hutan jasa lingkungan dengan Dinas Kehutanan Yogyakarta. Awal pembangunan wisata ini setiap anggota dilakukan pemungutan dana sebesar Rp 175.000,-. Dana hasil pungutan dipergunakan sebagai modal pembangunan fasilitas penunjang wisata. Masayarakat dan pemerintah saling berkerjasama aktif hingga wisata songgolangit dikenal khalayak ramai seperti sekarang ini.
Pemandangan yang tersaji di wisata seribu batu sangatlah elok. Topografinya berupa lembah dan dikelilingi bermacam pepohonan mulai dari pinus, akasia, sonokeling, dll. Pemilihan nama wisata disebut seribu batu/ wisata songgolangit karena berdasarkan cerita masyarakat setempat lokasi ini didominasi bebatuan besar. Saat cuaca sedang mendung, lokasi tersebut nampak bagai gumpalan awan (bebatuan) yang disangga oleh sebuah bukit. Konsep utama yang diusung di wisata alam seribu batu ialah Nuansa Negeri Dongeng dengan ikon utama berupa rumah seribu kayu. 
Beberapa obyek wisata yang terdapat di wisata alam seribu batu antara lain:
1. Rumah seribu kayu
Rumah kukusan terbuat dari ranting-ranting kayu yang dibentuk menjadi bangun segitiga. Rumah seribu kayu dibuat menyerupai bentuk kukusan atau kerucut yang terdiri dari 3 pilar. Tata letak rumah kukusan dibuat menanjak dan saling berhadapan. Pusat tata letak berada di paling atas dan menghadap ke semua rumah di bawahnya.  Pilar-pilar rumah kukusan saling berkesinambungan yang mengibaratkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Kontruksi rumah kukusan mempunyai makna sebagai manusia yang memanfaatkan sumber daya alam harus selalu bersyukur atas nikmat yang Tuhan YME.
Gambar 1. Rumah Kukusan/  Rumah Seribu Kayu


Gambar 2. Rumah Kukusan/ Rumah Seribu Kayu
2. Rumah Hobbit
Rumah hobbit terinsipirasi dari film Lord of the Ring yang sesuai sesuai dengan konsep Nunasa Negeri Dongeng.
Gambar 3. Rumah Hobbit
3. Panggung
Kontruksi panggung dari kayu-kayu sisa. Keberadaan panggung ditujukan dalam kegiatan pentas, talkshow, pertemuan dan lainnya.
Gambar 4. Panggung

4. Jembatan
Wahana untuk menyeberangi aliran sungai kecil. Kontruksi jembatan terbuat dari limbah kayu dan ranting pohon sehingga menambah nuansa alami. Saat melintasi jembatan dapat menikmati pemandangan sekitar  dan juga untuk wisata foto.

Gambar 5. Jembatan Kayu
5.  Taman Tumpah
Taman tumpah merupakan taman yang dipenuhi beraneka bunga dan ditujukan sebagai penunjang wisata foto.
Gambar 6. Taman Tumpah
sumber: https://rahmawatie.com/2018/02/libur-akhir-tahun-di-hutan-pinus-mangunan-yogyakarta/

6. Flying fox
Obyek flying fox merupakan permainan untuk menguji adrenalin. Sepanjang laju lintasan dapat menikmati pemandangan pepohonan dan hamparan kawasan wisata seribu batu.
Gambar 7. Wahana Permainan Flying fox
sumber: http://www.akutj.id/2017/05/wisata-alam-seribu-batu-songgo-langit.html

7. Penangkaran Rusa
Penangkaran rusa merupakan salah satu upaya konservasi rusa jawa secara insitu. Program penangkaran adalah bentuk kerjasama antara Kebun Binatang Gembiroloka dengan KPH Yogyakarta.  Pengunjung dapat melihat hewan rusa secara langsung dan mendapatkan informasi terkait pengembangbiakan rusa. Keberadaan penangkaran rusa merupakan bentuk sarana pendidikan yang diberikan kepada para pengunjung.
Gambar 8. Penangkaran Rusa

Dalam menunjang kenyamanan saat berwisata ke seribu batu dipersiapkan pula beberapa fasilitas diantaranya loket penjualan tiket masuk, warung makan, mushola, aula, tempat sampah, kamar mandi/ MCK dan area parkir yang luas. Keberadaan wisata alam mangunan sangat membantu masyarakat setempat terutama dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Masyarakat diberikan kesempatan untuk berperan aktif menjadi anggota pengelola, membuka usaha berjualan, menyewakan homestay. Adanya bentuk wisata berupa wisata alam yang indah serta fasilitas yang nyaman memberikan dampak positif kepada pengunjung. Pengujung dapat  merelaksasi pikiran dan tubuh, memunculkan rasa syukur yang luar biasa kepada Tuhan YME atas keindahan alam yang diberikan, memberikan pendidikan secara langsung dalam mencintai dan mengelola alam tanpa merusak alam.


Continue reading Wisata Alam Seribu Batu Yogyakarta

Minggu, 03 Juni 2018

Cara Menanam Bunga Matahari di Tahan Grumosol


Budidaya bunga matahari adalah kegiatan memelihara bunga matahari di dalam suatu lahan untuk diambil manfaatnya/ dipanen. RPH Kepek salah satu unit RPH di Balai KPH Yogyakarta melakukan penanaman bunga matahari dalam rangka untuk mendukung sumber pakan lebah madu yang tengah dibudidayakan di lokasi tersebut.  Pemilihan bunga matahari sebagai salah satu sumber pakan lebah madu karena bunga tersebut memiliki keunggulan diantaranya:
1. Berbunga hampir sepanjang tahun
2. Mempunyai warna yang cerah/ mencolok
3. Nektar dan pollen melimpah
4. Biji bunga mempunyai banyak manfaat (dapat ditanam kembali, sumber pakan ternak, sumber minyak nabati, dll)
5. Mudah pembudidayaan dan perawatannya
6. Mempunyai nilai estetik

Karakteristik Bunga Matahari
Bunga Matahari dengan nama ilmiah Helianthus annuus L. merupakan tumbuhan semusim dari suku kenikir-kenikiran (Asteraceae).  Secara garis besar klasifikasi bunga matahari dapat di tunjukan sebagai berikut :
Kingdom       : Plantae
Divisi             : Magnolipyta
Kelas             : Magnoliopsida
Ordo              : Asterales
Famili            : Asteraceae
Genus            : Helianthus
Spesies          : Helianthus annus L
Karakteristik bunga matahari sangat khas yaitu warna bunga yang kuning cerah, dimeter bunga yang besar (mampu mencapi 30 cm), arah bunga selalu menghadap matahari. Bunga ini sebenarnya bunga majemuk yangmana dalam satu bongol bunga tersusun dari puluhan mahkota bunga dan ratusan bahkan ribuan bunga kecil. Tinggi bunga mulai dari 0.5m - 5 m tergantung varietasnya, berdaun tunggal dan lebar, buahnya bertipe buah kurung, biji sesungguhnya terletak di dalam dan terlindung oleh buah yang serupa tempurung.

Cara Penanaman Bunga Matahari
Bunga matahari tumbuh optimal di dataran tinggi dengan kelembaban tinggi dan mendapatkan cukup sinar matahari. Diusahakan bunga matahari tidak ditanam di bawah naungan. Lahan yang cocok untuk ditanaman bunga matahari adalah tanah yang gembur dan sumbur. RPH Kepek melakukan bubidaya bunga matahari untuk memenuhi kebutuhan pakan dari budidaya lebah madu yang diusahan di tempat tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan pakan lebah, RPH Kepek mencoba melakukan budidaya bunga matahari. Jenis tanah grumosol merupakan jenis tanah yang mendominasi sebagian besar lahan di kawasan hutan RPH Kepek. Tanah grumosol terbentuk dari material halus berlembung, berwarna kelabu hitam dan bersifat subur. 

Gambar 1. Tanah Grumosol

RPH Kepek melakukan dua cara dalam penanaman bunga matahari. Cara yang pertama yaitu dengan penanaman langsung dari biji bunga matahari. Kemudian untuk cara kedua dilakukan dengan melakukan penyemaian biji terlebih dahulu baru dilakukan penanaman ke lahan. Berikut akan dijelaskan mengenai cara pelaksanaan penanaman bunga matahari:
A.  Penanaman Langsung
1. Menyiapkan biji bunga matahari
Biji bunga matahari diperoleh dari KPH Yogyakarta. Jenis bunga matahari yang digunakan adalah Pacino Gold.
2. Penyiapan lahan
Luas lahan yang digunakan untuk penanaman bunga matahari kurang lebih 500m2 (sementara). Lahan yang digunakan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan mesin pemotong rumput. Kemudian dilakukan penggemburan lahan dengan cara di traktor. Selanjutnya dibuat bedeng tanam.
3. Siapkan tongkat dari bambu dengan tinggi kurang lebih 30 cm yang ujungnya runcing sebagai penanda tanaman
4.Membuat lubang ajir dengan kedalaman kurang lebih 5cm
5. Penanaman biji bunga
Tanamkan tongkat yang ujungnya runcing, kemudian tiap lubang ajir diberikan 2-4 biji bunga. Tutup lubang menggunakan pupuk kandang/ organik. Jarak tanam per baris adalah 30-50cm dan setiap 4 baris diberi jarak 100cm. Pemberian jarang 100cm bertujuan untuk memberikan ruang bagi petani untuk melakukan kegiatan pemeliharaan.



Gambar 2.  tata penanaman

6. Pemeliharaan
Pemupukan dilakukan selama 2 kali. Pupuk dasar dan pupuk sewaktu mulai kelihatan calon bunga nya.  Kemudian juga dilakukan pembersihan gulma dan penyiraman rutin. Penyiraman merupakan faktor penting. Hal ini dikarenakan faktor jenis tanah di daerah Gunungkidul yang mana saat musim panas mengakibatkan tanah retak-retak. Tanah yang retak dapat memutuskan akar tanaman bunga matahari sehingga dapat mengakibatkan kematian bunga.
Kekurangan cara penanaman langsung
Saat bunga mekar tidak serentak yang kemungkinan dipengaruhi oleh
- Posisi biji di lubang tanaman
- Biji memperoleh kelembaban yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap waktu perkecambahan biji
- Kualitas biji tidak seragam
B. Penanaman melalui penyemaian terlebih dahulu
1. Sediakan biji bunga matahari
2. Penyiapan Lahan
3. Siapkan media penyemaian
Media penyemaian menggunakan nampan (ukuran nampan sesuai kebutuhan).  Media semai merupakan campuran dari tanah pasir dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:2. Letakkan media semai ke dalam nampan hingga ketinggian mencapai 2/3 tinggi nampan (tinggi nampan yang digunakan adalah 5cm).
4. Penamburan Biji Bunga Matahari
Atur biji bunga satu per satu dalam barisan dengan jarak 1 cm dan jarak antar baris 2 cm. Tutup biji bunga dengan media semai hingga ketebalan 1 cm. Siram semai menggunakan sprayer untuk mencegah biji berhamburan. Selalu jaga kelembaban media semai dengan penyiraman rutin pagi dan sore hari. Penyiraman bertujuan menjaga media agar tidak terlalu basah dan terlalu kering. Saat terlalu basah akan mengakibatkan jamur atau biji busuk. Disaat media terlalu kering juga tidak bagus pada biji karena bisa untuk berkecambah membutuhkan media yang lembab.
5. Pemindahan semai ke lahan tanam
Setelah 3 hingga 5 hari biji akan berkecambah dan mulai muncul ke permukaan media semai. Tunggu hingga calon daun asli muncul 2 pasang. Setelah daun asli muncul 2 pasang bibit siap dipindahkan ke lahan. Waktu berkecambah sangat rentan terhadap serangan hama seperti: jangkrik, semut, bekicot, dan belalang. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan rutin saat biji berkecambah. Pemindahan dilakukan pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan berlebih pada semai. Usahakan waktu mencabut semai, media ikut terbawa pada akar dan tidak perlu dibersihkan. Jika media tidak diikutkan pada akar akan mengakibatkan bunga layu dan proses adaptasi bunga dengan lahan membutuhkan waktu lebih lama. Semai yang dipindah ke lahan adalah semai yang sudah di sortir dimana semai yang dipilih adalah yang bagus dan sehat. Sehingga nantinya akan diperoleh bunga yang seragam tinggi, jumlah daunnya, waktu mekar dan prosentasi hidup lebih tinggi.
6. Pemeliharaan
Pemeliharaan berupa pemupukan, pembersihan gulma, dan penyiraman rutin.
Dokumentasi 
 Gambar 3. Bunga Matahari

Gambar 4. Lahan Bunga Matahari

Gambar 5. Pemeliharaan Bunga Matahari



















Continue reading Cara Menanam Bunga Matahari di Tahan Grumosol