Selasa, 21 April 2020

Pengalamanku Operasi Gigi Bungsu di Yogyakarta

Hai kawan semua,,

     Kali ini aku ingin bercerita pengalaman aku tentang operasi gigi bungsu bawah. Sekitar tahun 2017 ak menyadari bahwa gigi bungsu geragam bawah sebelah kiri aku tumbuh namun tidak sempurna. Saat itu memang aku berencana untuk mencabutnya, kemudian aku melakukan rontgen gigi di RSGM Sudomo UGM. Peralatan saat itu masih belum secanggih saat terakhir aku periksa gigi di sana. Pertama-tama ak daftar ke bagian depan kemudian aku menunggu cukup lama (kurang lebih 1 jam) baru aku dipanggil ke dokter gigi umum. Hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa ak harus rontgen gigi dulu. Kemudian ak masuklah ke ruangan ronten gigi, disana cuma ada 1 atau 2 orang dan gigi aku dilapisi sejenis kertas atau logam bebentuk kertas..kemudian di foto. Tidak lama hasil rontgen jadi lalu aku bawa ke dokter gigi lagi. Kata dokter nya aku harus segera dilakukan tindakan pencabutan dan diatahakan ke gigi spesialis untuk menentukan jadwal cabut. Oiyaa, cuma sekedar informasi di RSGM Sudomo UGM tidak menerima klaim BPJS yaa..
Aku sudah tau kondisi gigi ku dan aku harus cabut, namun aku tidak mempunyai keberanian untuk mencabut. Akhirnya ak urungkan niatku...
     Sampailah di tahun 2020, waktu itu aku harus periksa caten (calon pengantin) di puskesmas dekat kosan aku (Puskesmas Danurejan II klo gak salah). Disana aku akui pelayanannya bagus dibanding puskesman lainnya (misalnya sebut saja Gond*******n I). Saat aku periksa di poli gigi, kata dokter yang memeriksa gigi ku bilang aku mempunya 15 titik lubang di gigi. Aku sangat kaget, padalah aku rajin gosok gigi baik pagi maupun malam hari. Kata dokter mungkin cara aku menyikat gigi nya salah. Dan memang sepertinya aku salah gosok gigi. Kata dokter menggosok gigi itu harus minimal 3 menit dan sehabis makan kalau bisa malah langsung gosok gigi. Kemudian aku menananyakan ke dokter, dok ak pernah dengar kalau keseringan menggosok gigi nanti merusak email gigi. Dan dokternya bilang enggak papa justru malah sering gosok gigi bagus apalagi setelah makan dan teknik menggosok gigi jangan salah dari atas ke bawah dan gerakan memutar. Akupun menanyakan lagi tentang gigi bungsu aku. Kata dokter gigi nya tumbuh vertical dan harus segera dicabut saja.
Selama ini aku tidak menemuhi keluhan terlalu parah tentang gigi ku, cuma klo aku mengunyah makanan agak keras langsung kerasa cenut-cenut, dan aku juga merasakan kesusahan bicara (btw, gigi bungsu ak yang tumbuh tidak normal ada 2 yaitu gigi kanan kiri bawah.)
     Kemudian setelah aku menikah dan ingin segera memiliki momongan. Dari cerita teman-teman aku yang hamil dan sudah melahirkan bahwa ibu hamil biasanya merasakan keluhan sakit gigi. Hal itu dikarenakan bayi dalam kandungan membutuhkan banyak kalsium di dalam tubuh ibu. Oleh karena itu aku membulatkan tekat untuk mencabut gigi aku yang bermasalah. Kebetulan aku punya BPJS Kesehatan, dan aku masih bingung untuk memakainya atau tidak. Banyak yang bilang jika pakai BPJS cabut gigi nya sakit dan sembuhnya lama. Oleh karenanya, aku mencari informasi tentang cabut gigi bungsu di swasta diantaranya GIO, RS Bathesda Lempuyangwangi, dan RSGM Sudomo. Karena aku ingin cabut gigi aku harus mempunyai hasil rontgen, setelah searching harga-harga aku memutuskan ke RSGM Sugomo untuk Rontgen..
     Saat tiba di RSGM SUdomo UGM, pelayanannya cukup berubah dari terakhir aku kesana di tahun 2017. Pasiennya sangat banyak, namun pelayanannya cukup cepat. Pertama aku diarahkan ke pendaftaran kemudian diarahkan ke bagian keluhan baru lah aku ke dokter gigi umum untuk minta rujukan rontgen. Saat di rontgen alatnya sudah jauh beda dan lebih canggih. Hasil rontgen aku menunggu kurang lebih 20 menit. Setelah dapat hasil rontgent aku ke dokter umum lagi untuk membaca hasil rontgen aku..kemudian dari sana nampak ada gigi bungsu geraham bawah kanan kiri yang tumbuh tidak sempurna. Lalu dokter memeriksa gigi ku kemudian dibilang gigi aku tumbuh vertical dan bolong dan sudah nampak akar gigi nya. Dokter melakukan perlakuan dengan mengorek-orek gigi aku yang bolong untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip disana. Rasanya cukup sakit dan darah banyak yang keluar. Kata dokter harus segera dicabut, segera janjian dengan dokter spesialis gigi dan mulut saja. Saat itu juga aku naik ke lantai 3 untuk menemui dokter spesialis dan gigi aku di cek, dan katanya yang dicabut harus 2 tapi tidak bisa bareng yang dicabut gigi kiri dulu. Untuk biasa cabut gigi bungsu di RSGM Sudomo sekitar 600ribu. Aku tidak langsung memutuskan namun aku konsultasi ke suami ku dulu. Akhirnya aku putuskan untuk buat jadwal di RSGM Sudomo.
     Selain di RSGM Sudomo aku juga mencari informasih di GIO dimana harga cabut 1 gigi bungsu berkisar 1-2juta dan di RS Lempuyangwangi berkisar 800rb/ gigi. Setelah berpikir lama akhire aku memutuskan pakai BPJS toh aku bayar BPJS tiap bulan. Kemudian aku menuju faskes I ku yang dekat kantor yaitu Puskesman  Gond*******n I yang pelayanannya lamaa banget. Tapi untunge dokter gigi nya ramah. Disana aku minta surat rujukan dan dicarikan RS untuk aku cabut. Akhirnya aku dipilihin RS Hermina di Maguwo. Setelah aku mendapatkan rujukan aku lalu menelfon RS Hermina untuk mendaftar. Dan ak mendapatkan jadwal hari kamis jam 7 malam. Saat aku periksa di Hermina, dokter melihat hasil rontgen aku tanpa memeriksa gigi aku bilang aku operasi cabut 2 gigi langsung dan opname sehari. Awalnya ak kaget harus opname lalu ak konsultasi menelfon suami ku dan katanya gak papa. kemudian aku disuruh cek darah untuk melihat fisik ak dan hasilnya bagus. Perawat mengatakan aku harus cek anestesi dulu besoknya jam 14.00. Keesokan hari nya aku ke Hermina lagi untuk cek anestesi kurang lebih 1 jam ak dan selesai cek anestesi dan hasilnya bagus. Aku mendapatkan jadwal operasi hari senin nya. Aku disuruh datang jam 04.30 subuh dan jadwal operasi aku jam 09.00 pagi.
     Senin subuh aku dan suami sudah sampai di Hermina dan tidak lama aku diberikan kamar kelas II (BPJS aku kelas II). Di ruangan terdapat 3 pasien yang salah satunya aku. Pagi itu aku dipasang selang infus (sakit bgt) kemudian juga suntikan untuk mengecek alergi (sakit bgt) sembari nunggu operasi. Sekitar pukul 09.00 aku di keluar ruangan menuju kamar operasi klo enggak salah di lantai 4. Seingat aku aku masuk pukul 09.30 kemudian aku disuruh ganti baju operasi. Lalu aku masuk ruangan operasi disana adak dokter nya dan 2 perawat. Ruangan operasinya sangat dingin, dan dokter bilang mba ini saya suntikkan bius yaa, agak sakit tahan yaa. Aku bilang ya dok, saat bius diinjeksi ke infus rasanya sakiiiiiitt bgt dan ak nangis kesakitan.
     Tiba-tiba saat aku membuka mata suster bilang, operasinya sudah selesai mba. Aku pun kaget sekali tapi rasanya masih setengah sadar, pusing, mual, gak karuan rasanya. Aku nanya sus aku mual, saat itu suster mengambilkan baskom dan aku pun meludah ternyata yang keluar darah semua, gumpalah-gumpalan darah banyak sekali. Rasanya badan aku gak karuan, kemudian suster memasang selang oksigen dan bilang mba tidur ya sekitar 1 jam ini buat mengurangi rasa sakit. Kemudian aku merem tapi aku tidak tidur, pikiran aku mengawang-awang kemana-mana. Dan tidak terasa suster membuka oksigen dan bilang udah tidak sakit kan mba.. aku antara sadar dan enggak dan ak merasakan memang lebih baik daripada sebelumnya. Tidak lama aku dikeluarkan dari ruangan untuk kembali ke ruangan inap. Aku melihat jam dinding ternyata sudah jam 1  tidak terasa 3 jam lebih.Kemudian suami ku menjemputku dan tibalah kami di ruangan inap. Rasanya gigi aku sakit banget dan muka aku bengkak.
     Operasi gigi ku ini diklaim sama BPJS, namaun saat pembayaran ak ada sedikit masalah karena aku kena denda. Jadi jika pembayaran BPJS melewati 1 bulan akan terkena denda dan denda baru muncul saat kita rawat inap di rumah sakit. Aku baru tau akan hal itu, karena BPJS aku lunas dan gak ada tunggakan. Namun memang sekitar bulan Desember-Januari aku telat bayar dan langsung aku bayar 2 bulan. Ternyata hal tersebut bisa mengakibatkan denda rawat inap.
Aku harus menginap semalam dan esoknya boleh pulang. Selama masa pemulihan aku diberikan infus dan antibiotik. Selang kurang lebih 3 minggu, jahitan nya sudah tertutup dan benag jahitannya pelan-pelan memudar. Begitulah pengalaman aku operasi gigi..
Continue reading Pengalamanku Operasi Gigi Bungsu di Yogyakarta

Senin, 23 September 2019

Bumdes Bangun Kencana Wisata Ngingrong

     Pada bulan Februari 2019, Dinas LHK telah meresmikan 3 Bumdes dalam kerja sama pemanfaatan hutan di wilayah hutan negara DIY. Salah satu Bumdes yang telah melakukan perjanjian kerja sama adalah Bumdes Bangun Kencana. Bumdes Bangun Kencana sendiri merupakan Bumdes yang telah berjalan cukup lama yang kemudian menambah unit usaha Wisata Alam Ngingrong. Pengajuan kerja sama wisata Ngingrong ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang kemudian di arahkan kepada KPH Yogyakarta sebagai fasilitatornya. Syarat yang perlu dipenuhi dalam pengajuan kerjasama adalah menyerahkan proposal yang berisi rancangan kegiatan wisata dan beberapa administrasi lainnya.  Berdasarkan wawancara langsung dengan Pak Suwarno selaku Ketua unit usaha Wisata Alam Ngingrong, beliau mengatakan bahwa syarat pengajuan kerja sama cukup mudah dipenuhi, pelayanan dari DLHK dan KPH Yogya cepat dan kompeten, serta tidak ada punguntan apapun selama proses pengajuan kerjasama.
     Goa Ngingrong yang dikerjasamakan seluas 6.14 ha berada di petak 156, RPH Mulo, BDH Paliyan. Letak administratif berada Desa Mulo, Kec. Paliyan, Kab. Gunungkidul, DIY. Keberadaan Wisata Alam Ngingrong mampu mengakomodir penyerapan tenaga kerja masyarakat setempat yang terdiri dari 18 pemandu, 2 petugas parkir dan 28 pedagang. Daya tarik yang dimiliki Wisata Goa Ngingrong yaitu Goa Kars yang terbentuk dari proses alami penggerusan batuan kars ke dalam bumi dan merupakan salah satu dari 16 Geosite Gunung Sewu di Gunungkidul. Pengembangan Wisata ini mendapatkan dukungan yang besar dari Pemda Gunungkidul dan Dinas Pariwisata. Fasilitas penunjang kenyamanan wisata yang tersedia pun sudah memadai diantaranya aula, tempat duduk bersantai, warung, toilet, listrik, dan penerangan. Atraksi wisata yang disediakan yaitu flyingfox, susur goa, area tracking.
     Wisata Alam Goa Ngingrong cepat ramai pengunjung karena didukung oleh letaknya yang strategis di Jalan Raya Tepus-Mulo. Pengunjung yang datang yakni pengendara yag bersinggah untuk transit, wisatawan pantai Gunungkidul, dan masyarakat setempat. Untuk menarik kedatangan pengunjung, pengelola mengangkat tema budaya jawa seperti mengadakan pentas wayang, campur sari, karawitan dan jatilan. Kemudian setiap akhir pekan diadakan pasar minggu yang menyajikan jajanan tradisional serta kegiatan senam rutin. Selain sebagai tempat wisata, Ngingrong juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pelajar maupun mahasiswa tentang geologi dan sejarah.
    Selama kurang lebih enam bulan berjalan, pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan Wisata Ngingrong sudah cukup baik. Namun ada kendala yang masih perlu diatasi yakni belum berjalannya penarikan retribusi tiket masuk yang disebebakan oleh area wisata yang masih open acces sehingga pengunjung dapat masuk dari banyak spot. Oleh karena itu, diperlukan pemberian batas seperti pagar untuk membuat pengunjung melewati satu pintu masuk. 

DOKUMENTASI

Gambar 1. Goa Ngingrong

Gambar 2. Aula


Gambar 3. Tempat Berteduh


Gambar 4. Warung Makanan



Gambar 5. Tracking Area


Continue reading Bumdes Bangun Kencana Wisata Ngingrong

Rabu, 31 Juli 2019

Budidaya Lebah Madu KTH Sekar Sari Seto di KPH Yogyakarta


A.    Profil
Balai KPH Yogyakarta telah melakukan pembinaan dan pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) salah satunya dalam kegiatan budidaya lebah madu. Pada tahun 2018, KPH Yogyakarta difasilitasi oleh BPHP unit VII Denpasar mengadakan pengembangan kelompok budidaya lebah madu. Kelompok Tani Hutan Sari Sekar Seto (KTH SSS) yang berada di RPH Kepek BDH Playen merupakan salah satu dari dua kelompok budidaya madu yang diberikan pendampingan dan pelatihan. Jumlah anggota KTH SSS  kurang lebih 28 anggota dan fokus pada budidaya lebah Apis Cerana. Selama kegiatan budidaya KTH SSS tidak lepas dari pendampingan langsung oleh personil di RPH Kepek.
B.     Apa itu Madu ?
Madu dikenal sebagai bahan pangan yang dipercaya bagus untuk kesehatan tubuh. Lebah madu mengambil nektar dan serbuk sari untuk dijadikan sebagai makanan dan sebagian disimpan untuk cadangan makanan. Cadangan makanan lebah tersebutlah yang dipanen manusia. Secara umum rasa madu didominasi manis karena kandungan fruktosa-nya yang tinggi.
Tabel 1. Analisis Kandungan Madu
Fruktosa
: 38.2%
Glukosa
: 31.3%
Maltosa
: 7.1%
Sukrosa
:1.3%
Air
:17.2%
Gula
: 1.5%
Abu
:0.2%
Lain-lain
:3.2%

C.    
Lebah Apis Cerana
Lebah Apis cerana diduga berasal dari dataran asia dan menyebar ke asia timur hingga jepang. Lebah cerana atau lebah lokal mudah ditemui di bunga-bunga sekitar rumah bahkan bersarang di dalam rumah atau tempat-tempat yang teduh. Klasifikasi lebah madu secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Hymenoptera
Famili              : Apidae
Bangsa            : Apini
Genus              : Apis
Spesies            : Apis Cerana
Gambar 1. Morfologi Umum Lebah
Struktur morfologi lebah cerana sama dengan morfologi lebah pada umumnya. Tubuh terdiri dari tiga bagian utama yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen).  Pada bagian kepala terdapat ciri rambut yang melindungi mata majemuk panjang dan berdiri, rambut tersebut berfungsi untuk mengambil pollen dari bunga,  scutellum (bagian belakang dari dada/thorak) berbentuk cembung, danada lobus  juga sebagai sayap belakang.  Lebah dewasa berwarna hitam dengan empat buah garis-garis kuning di bagian perutnya. 
D.    Sumber Pakan
Seperti mahkluk hidup lainnya, lebah bertahan hidup dengan adanya kesetersediaan sumber pakan. Lebah mengambil makanan berupa nektar dan pollen (serbuk sari) dari bunga maupun pangkal daun muda. Madu yang dipanen untuk dikonsumsi haruslah dari bunga yang tidak beracun. Jika madu menghisap nektar dan pollen dari bunga yang beracun maka madu yang dihasilkan juga beracun. Oleh karena itu, petani lebah harus mempunyai pengetahuan terhadap jenis-jenis tanaman yang dijadikan sumber pakan.
E.     Budidaya Lebah Madu
Kegiatan budidaya lebah terdapat 2 hal utama yang diperhatikan yaitu karakter lebah yang dibudidayakan dan ketersediaan sumber pakan. Lebah Apis cerana dipilih untuk di budidayakan karena mempunyai kelebihan mudah beradaptasi , mudah dicari koloninya, dan menghasilkan madu yang banyak. Di daerah Gunungkidul, koloni lebah cerana dapat ditemui di hutan, di dalam goa, di celah-celah batu, bahkan di sekitar rumah.
Ø  Ketersediaan Pakan
KPH Yogyakarta mempunyai potensi hutan kayu putih yang tinggi. Selama ini daun kayu putih dimanfaatkan untuk disuling menjadi minyak kayu putih. Ketersediaan bunga kayu putih yang melimpah dan berbunga sepanjang tahun dimanfaatkan sebagai sumber pakan budidaya lebah. Selain kayu putih terdapat pula beberapa jenis tanaman lainnya untuk diversifikasi sumber pakan. Bunga yang ditanaman yakni bunga yang cepat tumbuh dan mampu berbunga sepanjang tahun seperti bunga matahari, bunga kenikir, bunga celocia, bungga jengger ayam, dan beberapa jenis lainnya.serta terdapat tanaman jati dan rimba yang berada disekitar lokasi budidaya.
Gambar 2. Hutan Kayu Putih

Gambar 3. Stup Lebah

Gambar 4. Hutan Jati dan Rimba
Ø  Koloni Lebah
Lebah merupakan hewan yang selalu hidup berkoloni, rata-rata jumlah setiap koloni nya berkisar 60-70 ribu lebah. Di dalam sarang lebah terdapat lebah ratu, lebah pejantan, dan lebah pekerja. Setiap koloni lebah hanya ada satu lebah ratu dan jika di dalam satu koloni terdapat dua lebah ratu maka keduanya akan saling membunuh untuk mendapatkan kedudukan sebagai ratu. Lebah pejantan bertugas untuk membuahi lebah ratu. Jumlah lebah jantan harus dikendalikan minimal 10% dan maksimal 20% dari jumlah lebah di tiap koloni. Jika populasi lebah jantan terlalu banyak akan mengurangi jumlah madu yang dapat dipanen. Oleh karenanya, ketika lebah pejantan melebihi batas disarankan untuk mengurangi jumlahnya. Lebah pekerja bertugas menjaga koloni dan berkerja mencari nektar dan pollen. Di dalam koloni tidak ada batasan jumlah lebah pekerja karena semakin banyak lebah pekerja semakin banyak madu yang dihasilkan. 
Gambar 5. Koloni Lebah

Gambar 6. Pemindahan Koloni Lebah

Ø  Cuaca dan Musim
Lebah cerana termasuk lebah yang tidak terlalu tahan panas. Karena lokasi budidaya dilakukan di Gunungkidul yang cucanya tergolong panas maka dibutuhkan stup lebah yang cukup besar agar lebah tidak sumpek atau panas di dalam stup. Masalah tata waktu budidaya juga perlu diperhatikan. Pada bulan April- Juli merupakan bulan transisi dari musim panas ke musim penghujan yang mana masa bukan musim bunga atau disebut bulan paceklik madu. Jika terjadi kelangkaan sumber pakan, untuk mencegah lebah berpindah / menjaga keutuhan koloni dapat disiasati dengan pemberian makan tambahan berupa air gula maupun air tebu. Madu yang dihasilkan dari pemberian pakan berupa air gula maupun air tebu tidak disarankan untuk dipanen atau dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan madu tersebut bukan madu murni.
Ø  Predator
Salah satu gangguan dalam berbudidaya lebaah madu adalah hama predator. Adapun jenis hewan penggangu yang menyerang lebah cerana di KTH SSS antara lain: kupu-kupu, cicak, capung, tawon pelang, kecoak, dan semut angkrang. Hama tersebut mengganggu madu dan juga larva lebah. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi hama pengganggu yaitu: pemeriksaan rutin stup, pemberian lem pada penyangga stup untuk menangkap hama yang merayap dari tanah, melakukan pemberantasan maupun mengusir hama yang mendekat seperti capung dan tawon pelang, serta menjaga kebersihan stup.
Ø  Produk Madu
Proses budidaya KTH SSS mengutamakan kualitas madu yang diproduksi. Lokasi budidaya dijaga kebersihannya dan jauh dari polusi (asap kendaraan maupun asap rokok). Terdapat dua proses pasca panen untuk madu yang dijual yakni:
1. Madu tiris adalah madu yang dipanen dari hasil penirisan langsung. Sarang madu dipotong dari sisir kemudian diposisikan terbalik agak madu menetes. Madu tiris dikategorikan madu kualitas I dan mempunyai fungsi untuk penyembuhan dan menjaga stamina. 
2. Madu kukus adalah sisa sarang yang telah ditiris madunya kemudian dikukus. Sisa sarang madu dimasukkan kedalam plastik kemudian direbus ke dalam air mendidih. Lilin dan kotoran akan mengendap pada bagian atas plastik sedangkan madu akan berada dibawahnya. Madu kukus dikategorikan sebagai kualitas II yang berfungsi untuk menjaga stamina.
Gambar 7. Penirisan Madu

Gambar 8. Produk Madu SSS
F.     Potensi Pasar Budidaya Lebah madu
Tingkat konsumsi madu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Namun, untuk mencukupi kebutuhan madu masih dilakukan impor berkisar 1500-2000 ton/ tahun. Produksi madu dalam negeri ditopang dari hasil madu hutan dan madu budidaya. Budidaya lebah madu sebenarnya kegiatan yang rendah modal, biaya pemeliharaan, serta tenaga. Berbeda dengan hewan ternak lain, lebah mencari mampu mencari pakan sendiri dan setiap 20-30 hari madu sudah siap dipanen. Apabila produksi madu tinggi dan kualitasnya baik diharapkan dapat meningkatkan tingkat konsumsi madu masyarakat, memangkas biaya impor madu dan Indonesia mampu menjadi negara pengekspor madu.



Continue reading Budidaya Lebah Madu KTH Sekar Sari Seto di KPH Yogyakarta

Jumat, 12 Juli 2019

Kerja Sama Jati Unggul Nusantara (JUN) di KPH Yogyakarta

     Kebutuhan kayu mengalami peningkatan seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Salah satu jenis kayu yang digemari masyarakat adalah Jati. Kayu jati mempunyai mutu kayu yang tinggi dan menjadi primadona kayu pertukangan khususnya di Pulau Jawa. KPH Yogyakarta mempunyai hutan jati seluas 6.161 ha yang tersebar di hutan lindung seluas 979 ha dan hutan produksi seluas 5.182ha. Dalam rangka meningkatkan produktivitas kayu jati, Dinas Kehutanan dan Perkebunan bekerjasama dengan PT Surya Silva mataram untuk mengembangkan Jati Unggul Nusantara (JUN).
     Jati JUN merupakan varietas jati yang diperoleh dari seleksi klon-klon jati unggul menggunakan seleksi DNA. Bioteknologi Jati Jun dilakukan dengan sistem perakaran sehingga menghasilkan akar tunjang majemuk. Keunggulan jati jun dibanding jati alam adalah varietas jati jun cepat tumbuh , kokoh dan dapat dipanen mulai umur 5 tahun. Pada umur yang sama, diameter jati Jun lebih besar dibandingkan dengan Jati Konvensional. PT SSM membangun lokasi persemaian yang berada di di Dusun Ketangi, Banyusoco, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. 
     Kerja Sama penanaman Jati Jun dimulai tahun 2010 yang tertuang dalam dokumen kerja sama No.119/ 21370 tentang pembangunan hutan tanaman jati melalui inovasi silvikutur intensif dan water management. Jangka waktu kerja sama berlangsung selama 35 tahun dengan target penanaman maksimal seluas 1000ha. Kesepakatan pola pemanenan pada tahun pertama bagi hasil yang diterapkan ialah 65% untuk PT SSM, 25% untuk Dinas Kehutanan dan Perkebunan, dan 10% untuk Masyarakat. Pada tahun kedua pola bagi yang diterapkankan yaitu 50% untuk PT SSM, 30% untuk Dinas Kehuanan dan Perkebunan, dan 20% untuk Masyarakat. Pola pada tahun kedua berubah karena PT SSM tidak melakukan penanaman bibit karena bibit yang digunakan dari hasil terubusan. 
     Penanaman Jati JUN pertama kali dilakukan pada petak uji coba yaitu petak 95 dan petak 96 seluas 30 ha yang berada di petak RPH Menggoro, BDH Paliyan. Hingga saat ini tahun 2019 telah dilakukan penanaman seluas 311 ha dari target maksimum seluas 1000ha. Penanaman Jati Jun tersebar pada beberapa RPH yang berada di BDH Paliyan dan Playen. 

     
DOKUMENTASI

 Gambar 1. Jati JUN Petak 95

Gamabr 2. Jati Jun Petak 95 dan Petak 96

Gambar 3. Tegakan Jati Jun

Gambar 4. Kayu Jati Jun Umur 5 Tahun

Gambar 5. Jati Jun Umur 5 Tahun


    




Continue reading Kerja Sama Jati Unggul Nusantara (JUN) di KPH Yogyakarta

Rabu, 19 Juni 2019

Dampak Sosial Ekonomi Wisata Hutan Pinus Mangunan

     Pemberdayaan diartikan sebagai proses pembangunan sumber daya manusia (SDM)/ masyarakat itu sendiri dalam bentuk penggalian kemapuan pribadi, kreaktifitas, kompetensi dan daya pikir, serta tindakan yang lebih baik dari sebelumnya. Pemberdayaan masyarakat penting dilakukan untuk mendongkrak kemampuan masyarakat terutama masyarakat miskin dan termaginalkan. Masyarakat didorong untuk mandiri, memiliki kesadaraan potensi, dan terlatih. Ujung dari proses pemberdayaan akan bermuara pada peningkatan kelas masyarakat baik secara sosial dan ekonomi. Daerah sekitar hutan merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai kantong kemiskinan di Indonesia. Masyarakat sekitar hutan memiliki ketergantungan yang kuat pada hutan untuk memenuhi kebutuhannya hidup. Mereka memerlukan pemberdayaan yang intensif untuk meningkatkan taraf hidupnya.
     Pemberdayaan telah dilaksanakan di kawasan hutan KPH Yogyakarta secara bersinergi dengan masyarakat. Contoh bentuk pemberdayaan di KPH Yogyakarta yang berhasil dapat dilihat dari kegiatan jasa lingkungan wisata alam hutan Pinus Mangunan (https://tehdanubi.blogspot.com/2018/07/cerita-hutan-wisata-alam-hutan-pinus.html). Hutan Pinus Mangunan (Wana Wisata Mangunan) berlokasi di Kawasan hutan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Mangunan, Bagian Daerah Hutan (BDH) Kulon Progo-Bantul. Letak administratif berada di Desa Mangunan, Kec. Dlingo, Kab. Bantul, Prov. D.I Yogyakarta.
     Sebelum adanya wisata hutan Pinus Mangunan yakni pada tahun 2011-2014 masyarakat sekitar hutan bermata pencaharian sebagai penyadap getah pinus dan petani. Terdapat kurang lebih 87 KK yang tergabung dalam anggotan KTH (kelompok tani hutan) sebagai tenaga penyadap pinus. Upah sadap yang diterima oleh tenaga sadap sebesar Rp 2.600,-/Kg. Dari hasil bertani dan sebagai tenaga sadap getah, masyarakat sekitar hutan Pinus Mangunan berpenghasilan kurang lebih Rp 500.000 - Rp 800.000 per bulan. Seiring dengan kondisi ekologi tegakan pinus yang sudah berumur tua, maka kegiatan penyadapan dihentikan. Tegakan pinus yang sudah tua terjadi penurunan potensi getah dan jika dipaksakan tetap sadap tegakan pinus akan cepat mati. Selain itu biaya operasional dengan pendapatan dari sadapan tidak proporsional.
     Masyarakat yang sudah bergantung pada hasil hutan pinus diberikan solusi agar tetap ikut berpartisipasi dalam mengelola hutan. Oleh karena nya, muncullah inisiasi mewujudkan pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam hutan Pinus Mangunan. Selama tahap perkembangan wisata hutan Pinus Mangunan, KPH Yogyakarta memberikan pendampingan yang intensif. Pendampingan tersebut diantaranya mengakomodir regulasi pengelolaan hutan untuk jasa wisata alam di D.I Yogyakarta, mengawasi agar pengelolaan wisata tidak keluar dari regulasi yang ada, memberikan peningkatan kapasitas masyarakat (kelembagaan), peningkatan keterampilan, pemberian bantuan sarana dan prasarana pendukung.
      Selama perkembangannya hingga saat ini, wisata hutan Pinus Mangunan terdiri 9 lokasi wisata dan dikelola oleh 7 operator KTH yang ternaung pada Koperasi Notowono. Kesepakatan dalam hal pendapatan dari pengelolaan wisata alam Pinus Mangunan menerapkan sistem bagi hasil yang didasarkan pada Perjanjian Kerja Sama antara Dinas LHK DIY dengan Koperasi Notowono. Proporsi bagi hasil yang diterapkan yakni 75% untuk masyarakat dan 25% untuk Pemda. Total pendapatan pada tahun 2018 (periode januari-desember) yang telah masuk sebesar Rp 9.042.413.000 yang terinci untuk masyarakat sebesar  Rp 6.781.809.750,- dan untuk PAD Pemda sebesar Rp. 2.260.603.620,-.

Gambar 1. Diagram Jumlah Pengunjung Wana Wisata Mangunan Tahun 2018

     Keberadaan wisata Pinus Mangunan berdampak signifikan pada peningkatan kesejahteraan masyakarakat sekitar hutan. Di dalam kawasan wisata, masyarakat diberikan akses untuk bekerja menjadi operator dan melakukan wiraswasta. Dampak wisata Mangunan dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu :
1. Langsung
a. Penyerapan tenaga kerja sejumlah 544 orang sebagai pengelola wisata
b. Peningkatan kesejateraan dalam aspek pendapatan yang sebelum adanya wisata pendapatan berkisar Rp 300.000 - Rp 800.000 per bulan. dan setelah adanya wisata meningkat menjadi Rp 1.500.000 - Rp 3.500.000 per bulan.
c. Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat non pengelola (jasa kuliner dan jasa foto)
2. Tidak Langsung
a. Munculnya desa-desa wisata (munculnya wisata baru di sekitar Pinus Mangunan)
b. Munculnya usaha-usaha pendukung wisata (homsestay, tour and travel, jasa akomodasi, dll)
3. Dampak Ikutan
a. Kegiatan wisata berdampak pada peningkatan kunjungan/ penggunaan sarana transportasi, penginapan, kuliner dan cinderamata diluar daerah Wisata Pinus Mangunan.
b. Meningkatnya pemahaman masyarakat untuk menjaga hutan
c. Memberikan pemahaman masyarakat bahwa hasil hutan tidak hanya kayu melainkan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan


DOKUMENTASI

Gambar 2. Spot Foto di Pengger

Gambar 3. Kunjungan di Pinussari

Gambar 4. Sosialisasi masyarakat dari KPH Yogyakarta

     
     

Continue reading Dampak Sosial Ekonomi Wisata Hutan Pinus Mangunan